Titik Hitam dan Kertas Putih

 

“Bu,  saya merasa kehidupan di dunia ini hampa, tidak ada yang istimewa dan layak disyukuri,” kata seorang anak pada ibunya, “…Sampai-sampai, saat tidur yang mestinya menjadi momen kebahagiaan yang terindah, tak lagi kurasakan. Saya tidak puas atas apa yang saya miliki. Teman, sekolah, kehidupan, kemampuan, serta fisik yang saya miliki sepertinya tidak sesuai harapan. Saya selalu menjadi anak yang kekurangan di dunia ini.”

“Terus?” tanya ibu, tersenyum mendengar keluh kesah dari  anaknya tersebut.

Baca lebih lanjut

Iklan

Cerpen “Kado Untuk Mama”

Selimutku sedikit terbuka pagi itu, perlahan udara dingin nan menusuk menyentuh pori-pori kulit kakiku. Jelas, aku memilih tidur lagi pagi itu. Jam dinding pun samar-samar ku lihat masih pukul 03.00. Namun dari luar sana, sesekali ku dengar bunyi pintu berdecit, bunyinya tak segan, seperti menganggap itu rumah sendiri. Bukan maling pasti. Aku dengarkan seksama kelanjutan bunyi yang akan terdengar.

Baca lebih lanjut

Cerpen “Misteri Rumah Baruku”

Namaku Kiva, lengkapnya Kiva Andara. Di rumah ini aku hanya tinggal bersama kakak laki-lakiku. Orangtuaku sudah meninggalkanku dan kakakku dua tahun yang lalu. Sebenarnya sejak awal aku sudah tidak suka dengan rumah pilihan kakakku ini. Saat memasuki pintu rumah ini pertama kali untuk melakukan pengecekan kondisi rumah, aku sudah merasakan hawa yang tidak enak, tapi apa boleh buat kakakku tetap ngotot ingin tinggal di rumah ini. Seringkali saat aku tanya apa alasan kakakku tinggal di rumah ini kakakku menjawabnya dengan asal. Misalnya dia berkata rumah ini unik, rumah ini kuno, dan lain-lain. Seringkali aku bertanya-tanya kenapa tempat seperti ini dibilang enak padahal setiap malam aku sering mendengar jeritan-jeritan dan bayangan-bayangan di rumah ini. Seringkali aku merasa takut oleh jeritan-jeritan dan bayangan yang berkelebat itu. Mungkin kakakku memang tidak pernah mengerti apa yang aku rasakan karena kakakku jarang berada di rumah, tetapi aku seperti merasa kakakku mengetahui sesuatu. Baca lebih lanjut

Cerpen “Jendela Ribuan Mimpi”

Diruang kecil itu seorang lelaki  paruh baya telah menghabiskan beberapa tahun terakhirnya. Tak ada hal yang membuatnya betah disana. Hanya sebuah ranjang kecil yang renta termakan usia, sama sepertinya. Tak ada sanak saudara ataupun kerabat yang menjenguknya. Beberapa kali memang si susulung datang hanya untuk menuliskan hitam diatas putih, memaksa sang ayah untuk menandatangani surat pembagaian warisan.  Tak ada yang bisa dilakukannya selain menurut, toh ia juga merasa kulitnya sudah mulai menyibak aroma tanah.

Baca lebih lanjut

Cerpen “Bibir Senja”

BIBIR SENJA

Aku rindu pada bibir senja, adakah ia kan hadir kembali setelah sekian hari ia tak pernah aku jumpai. “widia” dialah sahabatku yang biasa ku tulis dalam diariku bibir senja. semenjak kematian ayahnya gadis imut berambut ikal mayang ini tak jarang membungkam diri, dia lebih banyak memilih untuk diam dari pada tersenyum.

Sebulan sebelum kematian pak nufus “ayah widia” seperti biasa di saat waktu senja yang tertuang adalah sajian senyum canda dan tawa segenap sahabat, semua lebih suka widia yang banyak tersenyum. Tapi kini bibir senja sudahlah tiada lagi. kini widia bukan widia yang dulu, yang tarian bibirnya mampu menjelmakan suasana terasa seperti di sudut nirwana.

Baca lebih lanjut