Perempuan Pencari Tuhan

perempuan

BERMULA dari kegelisahan. Gelisah untuk mencari makna hidup. Gelisah karena tak kunjung menjemput impian. Gelisah karena merasa belum lagi berbuat banyak untuk menjadi manusia yang bermanfaat. Hidup terasa tak lagi hidup. Membosankan. Bosan hidup? Bosan dengan rutinitas? Diam-diam saya merasakann ya, meski sedikit. Tapi saya khawatir yang sedikit itu lama-lama akan menjadi bukit. Meski samar, meski halus, namun suatu waktu bisa benar-benar menghunjam.

Entah ini merupakan jawaban Tuhan atau hanya “kebetulan” saja. Seingat saya, saya “hanya” berdoa agar dijauhkan dari segala penyakit hati dan dapat menikmati hidup yang berkah; baik itu dari segi usia, rezeki, kesehatan dan diberi kekuatan untuk menerima segala hal-hal baik maupun buruk yang menghampiri saya (karena hal baik itu pun merupakan cobaan, bukan?). Selain memohon ampun tentunya. Cukup itu saja saya rasa dan ternyata untuk mencapai level kehidupan yang terasa berkah itu tak selalu mudah. Ada saja godaan setan agar manusia menunda-nunda niat baiknya dan melakukan hal yang sia-sia sehingga keberkahan itu makin terasa jauh.

Lalu, tibalah saat ketika seorang kompasianer, Ade a.k.a Rindu, secara cukup mengherankan meminta saya untuk meresensi buku perdananya. Itu ia tuliskan di kolom komentar di postingan resensi saya ini. Saya baru mengenal dirinya di tulisan itu, dan tiba-tiba saja seorang saya diminta untuk meresensi bukunya yang ternyata berjudul begitu syahdu; Perempuan Pencari Tuhan. Singkat kisah, saya pun berkomunikasi lewat inbox dan buku setebal 220 halaman itu pun sampai ke tangan saya.

Ada sedikit rasa “enggan” ketika membaca buku bergenre Motivasi Islam dalam bahasa ringan namun filosofis ini. Ini bicara tentang pencarian Tuhan loh! Tuhan yang saya belajar beribadah kepadaNya, belajar mengenalNya lewat ritual-ritual dan teori-teori agama sejak usia balita itu. Untuk apa dicari lagi? Kan sudah tahu kalau Tuhan saya sebagai muslimah itu adalah Allah SWT yang Mahaesa? Lalu?

Ternyata, setelah lembar demi lembar bukunya saya baca, saya sebagai manusia memang acap kehilangan “sosok” Tuhan di dalam diri saya, tanpa saya sadari. Saya masih perlu mencari. Apa yang Ade a.k.a Rindu cari melalui tokoh “saya” dalam buku ini sama dengan apa yang saya cari, sama dengan apa yang ingin saya sibak, sama dengan apa yang ingin saya ungkap tentang misteri kehidupan ini; Untuk apa saya hidup? Untuk apa Tuhan menciptakan saya? Itulah pertanyaan mendasar yang mengawali rangkaian perjalanan batin penulis dalam menemukan tujuan hidup sejatinya.

Bab-bab selanjutnya adalah hamburan kata-kata indah sarat makna hingga tiba-tiba saya merasa begitu kaya akan mutiara-mutiara kata yang tertera pada tiap lembarannya. Begitu lapang hati dan dunia ketika mencoba menghayati tiap-tiap pesan kuat yang terkandung di dalam setiap judul bab. Sesungguhnya sulit merangkumnya hanya dalam sebuah tulisan sederhana mengingat begitu banyaknya hikmah dan ibrah (pelajaran) yang dapat dipetik. Hingga acapkali saya hanya bisa tercenung lama dan mencoba merefleksi diri ke belakang. Sungguh, sambil membacanya, saya ingin langsung mempraktikkan “tuntunan hati” dalam buku ini. Tuntunan untuk bisa mencapai level sabar, ikhlas dan tawakal yang sesungguhnya. Tuntunan untuk bisa mencintaiNya melebihi apapun di dunia ini, yang pastinya penuh perjuangan mahaberat.

Bahasanya yang komunikatif membuat seolah-olah penulis berbicara langsung dengan pembaca, berhadap-hadapan. Lalu si penulis sebagai pencerita pun mengupas satu per satu tentang perjalanan hati, jiwa, hingga kembali ke haribaan Sang Penciptanya. Dalam perjalanan kehidupan tersebut, pastilah banyak kejadian dan pengalaman hidup yang membuat hati kita sebagai manusia terasa hancur, jiwa terasa rapuh. Lalu dalam kehancuran dan kerapuhan itu, barulah terbersit pemikiran;

Untuk apa semua ini? Untuk apa Tuhan menganugerahi beragam cobaan hidup yang dirasa tak tertanggungkan perihnya ini? Mengapa Tuhan tak peduli akan segala rasa sakit yang tiada berakhir ini? Benar-benar sayangkah Tuhan pada makhlukNya? Kalau iya, mengapa berbagai kesulitan ini tak segera berganti menjadi kemudahan dan kebahagiaan? Mengapa segala rencana yang telah disusun sedemikian rupa bisa kacau dalam sekejap mata? Mengapa yang diinginkan tak selalu dikabulkan? Alih-alih mengabulkan, Tuhan malah memberi ganti yang seringkali tidak kita suka. Tuhan, bukan ini yang kuinginkan!

Saya, Anda, kita, mulai menggugat Tuhan. Mulai tak percaya lagi akan kasih sayangNya yang sesungguhnya tak berbatas pada segenap makhlukNya. Kita mulai limbung, mulai gundah, mulai gelisah, mulai galau. Dan Tuhan tetap diam, tak langsung memberi jawaban. Ah, benarkah Tuhan hanya diam? Benarkah Tuhan semudah itu meninggalkan makhluknya yang lemah ini?

Apa yang paling dibutuhkan jiwa? Kemana jiwa akan berpulang? Sungguh, jiwa membutuhkan rumah yang tenang, yang nyaman, yang jauh dari galau. Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang. Maka, isilah jiwa dengan Allah, dengan cinta Allah agar tenang. Tak ada yang mampu memberikan rumah seindah yang Allah berikan.

(hal. 55)

Saat keinginan yang sejatinya adalah hawa nafsu kita sebagai manusia berbenturan dengan rencana dan kehendak Tuhan, kita seringkali lupa, seringkali menganggap ibadah-ibadah yang kita lakukan, doa-doa yang kita panjatkan demi terkabulnya keinginan itu, hanyalah sia-sia. Padahal Tuhan dengan kuasa dan rencanaNya yang indah pasti mengabulkan segala doa kita. Memang tidak selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan, namun Tuhan mengabulkannya dengan caraNya sendiri, yang lebih sesuai dan terbaik bagi kita.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah Maha Mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” [QS Al-Baqarah (2:216)].

Subhanallah.

Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagikah yang akan kamu dustakan?

[QS. Ar-Rahmaan (55)]

Sampai di sini, saya mengulang kembali video perjalanan hidup di kepala saya. Sungguh, semua yang terjadi sampai detik ini adalah berkat kehendakNya. Tak ada satu detik pun yang terlewat tanpa campur tanganNya. Tak ada. Setiap embusan nafas, gerak tubuh, sampai hal-hal kecil maupun besar yang pernah terjadi sepanjang perjalanan hidup saya adalah atas kuasa dan kehendakNya. Segala macam masalah yang pernah singgah, akhirnya terselesaikan juga dengan kasih sayangNya. Tak perlu sampai frustrasi atau bahkan depresi bila telah menanamkan ini di dalam hati;

Ketika masalah datang, Allah tidak meminta kita memikirkan jalan keluar hingga penat. Allah hanya meminta kita sabar dan shalat.

Pun juga ketika berpikir, akan jadi apa saya kelak, bagaimana hidup saya esok dan nanti, tak lagi perlu terlalu dirisaukan. Segalanya akan lebih mudah dan lebih indah jika di setiap embusan nafas, di setiap gerak langkah, di setiap detik waktu yang kita lewati, senantiasa terpatri bahwa Tuhan selalu ada bersama kita. Tuhan selalu mengiringi dan menuntun langkah-langkah kita. Meski sesak rasa di dada, meski hampa, meski nelangsa, cinta Tuhan pada kita, hamba-hambaNya tak akan pernah pupus. Tiada lagi arti cinta manusia jika cinta pada Tuhan melebihi segalanya.

Tak ada satu cinta pun di dunia ini yang mampu mematahkan hati manusia jika cinta Allah di atas segalanya. Sungguh, menduakan cinta Allah menjadikan cinta itu berhala.

Pada akhirnya, tiada jalan pulang lain selain kembali padaNya. Tak ada kekuatan apapun yang dapat memisahkan kita dari kehidupan kecuali kuasaNya. Dalam perjalanan menuju keabadian itu, kita pasti acap berbelok, kehilangan arah, dan membutuhkanNya agar kembali dengan selamat. Sebelum saat berpulang itu tiba, mari kita berpikir sejenak dan bertanya pada hati masing-masing; sudah seberapa banyak bekal yang saya kumpulkan untuk kehidupan abadi nanti? Sudah siapkah saya untuk menemuiNya kelak dalam keadaan jiwa yang suci?

http://media.kompasiana.com/buku/2012/05/02/perempuan-pencari-tuhan-459264.html

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s